Subscribe:

Pages

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 September 2024

Cerpen

 

BAYANG WAKTU YANG HILANG

Karya: hpindas

 

Rafli melangkah keluar dari mobil dinasnya dengan ransel di punggung dan tumpukan dokumen di tangan. Hari itu, ia dan rekannya mendapat tugas dari Badan Akreditasi Nasional untuk memvisit salah satu sekolah dasar yang berada di salah satu kabupaten yang tertera di surat tugasnya. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahnya, namun pikirannya sedang sibuk dengan jadwal yang padat. Meski rutinitas seperti ini sudah ia jalani bertahun-tahun, ada perasaan aneh yang melintas dalam hati hari itu. Sesuatu yang tak ia bisa definisikan.

Sekolah itu tampak ramai dengan anak-anak berlarian di halaman, dan para guru yang sibuk mempersiapkan segala hal untuk kedatangannya. Tetapi, tidak ada penyambutan khusus untuk asesor, karena untuk saat ini hal yang seperti itu tidak diperbolehkan. Sesampainya di gerbang, seorang perempuan muda menghampirinya.

"Selamat pagi, Pak. Saya Wina, guru di sini. Bapak asesor dari BAN Propinsi, ya?" suaranya lembut, penuh kehangatan.

Rafli berhenti sejenak. Matanya tertuju pada wajah perempuan itu. Wina tersenyum ramah, namun bagi Rafli, senyum itu memicu sebuah ingatan lama yang selama ini ia coba lupakan. Wajah Wina dengan kerudung biru yang menutupi rambutnya dan senyum yang meneduhkan terlihat begitu mirip dengan seseorang yang dulu sangat berarti baginya: Lila, kekasih yang telah lama hilang dari kehidupannya.

Rafli tercekat. Ia berusaha menjaga sikap profesionalnya sebagai asesor, namun pikirannya mendadak terlempar jauh ke masa lalu. Sekilas, ia teringat saat-saat indah bersama Lila, saat mereka masih saling berbagi mimpi di bawah langit sore yang berwarna oranye. Saat mereka tertawa bersama di sudut kafe favorit, berbicara tentang rencana masa depan yang kini tinggal bayangan.

"Pak?" Suara Wina membuyarkan lamunannya.

"Oh, maaf," jawab Rafli terbata-bata.

"Ya, saya berdua dari BAN-PDM Provinsi. Terima kasih, Bu Wina."

Kemudian meraka berjalan menuju ke ruangan temu awal yang sudah disediakan. Tampak Kepala Sekolah dan guru-guru yang lain berdiri untuk menyambut mereka. Tidak lama kemudian acara temu awal dimulai. Setelah selesai kegiatan visitasi dimulai dengan melakukan telaah dokumen dan wawancara. Kebetulan Wina salah seorang guru yang tadi menyambut Rafli diwawancara olehnya.

Sepanjang sesi visitasi, Rafli berusaha keras memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Namun, setiap kali ia menatap Wina, bayangan Lila kembali mengusik pikirannya. Ia melihat Lila dalam tatapan mata Wina, dalam cara perempuan itu tersenyum, bahkan dalam suaranya yang lembut. Hatinya terguncang, bukan karena Wina, tapi karena kenangan yang selama ini ia kubur begitu dalam.

Hari pertama kegiatan visitasi sudah selesai. Karena banyak bukti fisik yang harus dikumpulkan, kegiatan hari itu sampai sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah sesi visitasi selesai dan semua formalitas diakhiri, Rafli dan rekannya berpamitan. Ketika Rafli melangkah ke luar ruangan, Wina mendekati Rafli dan berkata.

"Terima kasih untuk ilmunya pada hari ini, Pak Rafli. Semoga besok kegiatan visitasinya berjalan lancer seperti hari ini," ucapnya sambil tersenyum. Senyum yang sekali lagi mengingatkannya pada cinta lama yang tak terselesaikan.

Ketika Rafli meninggalkan sekolah itu dari kaca spion mobil masih terlihat wajah Wina yang masih berdiri memandangi mobilnya. Terlihat perlahan wajah cantik itu menjauh. Perasaan yang ia coba lupakan bertahun-tahun kembali menghantui. Di dalam hatinya, ia menyadari bahwa mungkin pertemuannya dengan Wina bukan sekadar kebetulan. Mungkin ini adalah pengingat bahwa ada hal-hal di masa lalu yang belum sepenuhnya ia lepaskan.

Ia tersenyum tipis, menyadari betapa rapuhnya hati manusia. Cinta yang pernah ia pikir telah hilang kini hadir kembali dalam bentuk kenangan yang samar, namun nyata. Di bawah langit senja yang mulai merona, Rafli meninggalkan sekolah itu dengan pikiran yang lebih tenang, membawa serta kenangan lama yang akan selalu menjadi bagian dari dirinya, tanpa perlu diselesaikan.

Terkadang, cinta memang hanya meninggalkan bayang-bayang di sudut hati. Dan itu cukup. Cag ah!***

Singaparna, 29 September 2024

Sabtu, 01 Januari 2022

 Puisi


SITU SANGHYANG

Karya : Pipin Dasripin


Terungkap cerita membawa rasa manis tuk digali

panorama nan indah membuat orang terpesona

semilir angin di tepi situ menggugah angan

tak kan pernah terlupakan karenanya

 

Kesejukan alam menyambut keramahan

wisata air menjadi khas  ketertarikan

udara segar menambah ketentraman jiwa

Situ Sanghyang warna panorama

 

Ciri bukit mengelilingi tasik

Pepohonan hijau nan rindang mempesona

wahana wisata alam melangkah pasti

tak kan kubiarkan orang meradang

 

rakit mengiringi gemericiknya air

melaju tenang menuju harapan

Pancingan membuat hati penat jadi tenang

ikan bakar selalu menemani hati

 

bercengkrama dengan alam

menyepi ketenangan hati

tenteram dikala pergi menemani gemerisciknya air sanghyang

Singaparna, 20 Juli 2020

Sabtu, 26 September 2020

 Puisi

DEBURAN PANTAI CIPATUJAH

 

Deburan ombak membawa perjalanan menuju pantai kehidupan

Beranjak dari desiran angin pantai  menuju keindahan hati manusia

Bermuaran di tempat mentari menyinari jagat buana

Mendapat  hati yang riang mecapai harapan

 

Pantai Cipatujah merenda malam menembus pesona

Membekali niat hati yang tulus

Membenahi jalan-jalan keangkuhan

Yang selalu menghampiri setiap detik langkah kehidupan

 

Tak kan kubiarkan mereka menjelajahi pantai kemaksiatan

Di hamparan pasir pantai nan bersih memutih

Membuat awan menepi menghampiri nya

Seakan tak ingin kehilangan keindahan alami

 

Pantai Cipatujah memberikan ketenangan alami

Bersama deburan ombak bersahutan

Menembus batin ketenangan

Damai menyertai langkah kerinduan tuk selalu bersama

 

                                                                                                Singaparna, 19 Juli 2020

 

Rabu, 22 Juli 2020

Carpon Budak

DISUNATAN

 

            Ku: Pipin Dasripin

 

            Pah, ayeuna disepitan téh?" Fikri nanya ka bapana. Harita téh wanci subuh, kakara hudang manehna teh.

            Bapana neuteup seukeut ka Fikri, aya rasa kagagas ngadéngé budakna nanya kitu téh.

            "Insya Alloh énjing kasep!" Bapana ngawalon bari ngusapan sirah  Fikri pinuh ku rasa deudeuh.

            "Kapan ayeuna adik dibagi rapot pah, saur papah adik disepitanana tos dibagi rapot?" Fikri nanya deui ka bapana pinuh ku panasaran. Fikri téh kakara kelas 1 SD. Rencanana rék disunatan geus dibagi rapot semester 1.

            "Pami ayeuna disepitan, saha nu badé nyandak rapot atuh kasép?" Bapana nanya deui. Fikri nyéréngéh, kahartieun meureun...  

            Kasampak di klinik sunat geus pinuh ku nu rék disunatan jeung jalma nu nganteurna. Untung wé bapana Fikri, daptarna ti sababaraha poéeun deui kana waktuna. Kacipta lamun daptar ngadadak teuing kabagéan kasabaraha. Cacak daptar saméméhna Fikri kabagéan giliran ka lima harita téh.

            Acan dimimitian waktu Fikri, jeung keluargana anjog ka éta klinik. Sok sanajan geus daptar saméméhna tapi kudu daptar ulang. Nya harita Fikri dibarengan ku bapana daptar ulang.

            Teu kungsi lila, perawat ngageroan ngaran-ngaran budak nu rék disunatan. Harita ngaran Fikri gé kasebut da limaan-limaan. Fikri asup nuturkeun budak séjén nu sarua rék disunatan.

            Indungna neuteup Fikri semu salempang. Lantaran, kolot-kolotna teu meunang asup. Rasa hariwang, salempang pabaur jadi hiji. Antukna cimatana murubut maseuhan pipina.  

            Rada lila ogé, Fikri di jero rohangan tempat disunatan téh. Indungna teu daék cicing, bulak balik kana panto mimiti Fikri asup. Gék diuk deui dina korsi tempat diukna nu tadi. Elékésékéng katempona téh. Diukna teu daék cicing. Rét deui… rét deui kana panto. Teu muka kénéh waé. Jung nangtung, terus muru panto jalan barudak muru ruangan tempat disunatan.

            Bapana Fikri, ngan ukur bisa nempokeun kalakuan pamajikanana teh, bari haté mah teu kendat-kendat ngadu’a ka Alloh, mugia budakna lancar disunatanana teu aya halangan harungan.

            Barang bray téh panto muka, séréngéh Fikri seuri teu aya riuk-riuk rasa nyeri. Geus disarung, teu buligir. Gancang dirawu, dipangku ku bapana, disun taarna, terus dibawa ka na mobil. Indungna teu kuateun, murubut cisocana, cisoca kabungah nu jadi indung nénjo budakna disunatan. Bari babayar téh cisocana terus murubut maseuhan pipina.

            “Dik, nyeri teu?” Lanceukna nanya waktu geus aya na mobil.

            “Teu, Ka. Adik mah kan pemberani!” cenah, bari seuri.

            Teu karasa, cimata bapana ngeclak, cimata kabungah. Bapana bungah geus nohonan kawajiban salaku bapa, nyunatan budakna nu bungsu. Da ngan dua budakna téh, duanana lalaki.

            “Alhamdulillah, Gusti.....” gerentes haténa.***

 

 

Singaparna, 2 Pebruari 2020

 

 


Rabu, 30 Agustus 2017

UNTAIAN PUISI HARAPAN



Karya: Pipin Dasripin



Puisi 1

Kita terpisah jarak yang nyata
Kita berpijak pada tanah yang berbeda
Tapi kita lalui malam yang sama
Malam dengan segala keindahan kita
Keindahan yang menyatukan
Jarak seakan kita sedang bersama.

                                                                                    Singaparna, 16 Maret 2011










Puisi 2

Jika malam ini sebuah mimpi…
Maka biarkan sekejap keindahan ini
membawaku ke dalamnya.
Seandainya mimpi ini sebuah kenyataan…
Maka biarkan ku kagumi
hingga malam ini menjadi
siang yang menjadikan kenyataan
bagai seubah mimpi….






                                                                                    Singaparna, 16 Maret 2011
Puisi 3


Terkadang ….
Hati ini berlari dari
kenyataan….

Entah kenapa….
Jiwa ini meronta terlepas dari
kesadaran…

mungkin….
Rasa ini menarik hati, jiwa
Terbang dari
Ketidakberdayaan….

Akankah
Berlabuh pada sebuah
kebahagiaan yang selama ini
terpaksa terabaikan …

namun …
adakah hati, jiwa yang dapat
mengerti dan merasakan
kegalauan

semoga….

Semoga ….



                                                                                    Singaparna, 16 Maret 2011







Puisi 4




Aku bukan matahari yang sempurna menyinari dunia
Menjadi sumber kehidupan yang mempesona
Aku hanya dian kecil
Yang mencoba menyinari jiwamu.
Menghidupkan taman dalam jiwamu
Dan akhirnya semua mekar bersemi untukmu….
Hanya dalam dirimu..

                                                                                    Singaparna, 17 Maret 2011

TUNGGARA MAWA BALANGSAK
Ibun isuk maseuhan rebun-rebun
Mapay tapak lacak na amparan jagat
Tanda aya jalma lumampah
Muru lapak nu mayakpak ngampar hampalan

Aya harewos bangun haroshos
Nandakeun kasedih nu matak ngingkin
Angin mingkin haliwir nitip hate nu pejet
Nguyung ngungkun muru rungkun

Tuh bulan nembongan, ngabeberah hate pejet
Tuh bentang nyaangan hate nu nguyung
Ngabeberah sukma nu tunggara
Jalma nu lumampah mawa bungah

Hanjakal pangbeberah teu matak betah
Panghibur muru kalabur
Muru padumukan nu mungkur lungsur
Beja sagara barana leupas saharita

                                                                                                Singaparna, 06 Feb 2015

Rabu, 09 November 2011

Sajak Sunda

Sajak-sajak Pipin Dasripin


PATEKADAN
Ku: Pipin Dasripin





Alok cihcir ngageuing pikir
Ngahuru kalbu nu suwung
Ngahudang rasa
Nu kedal ngan cimata

Ngaraksa kaayaan nu tinggal wiwaha
Lakon manusa nu ngajadikeunana

Kiwari
Ati kageuing, diri ku giri
Nitenan diri nya cicing
Timbul rasa
Seja ngambah lautan kahirupan
Nu batan sakieu







Sajak



HAYANG KAWAS ANJEUN
Ku: Pipin Dasripin

Katingali anjeun ngapung di awang-awang
Dibarengan angin nu ngagendeng
Anjeun seuri suka bungah
Ningali waasna awang-awang

Kuring neuteup ka jauhna
Neuteup anjeun nu gumbira
Hate kumejot hayang nurutan
Ngawang-ngawang kawas anjeun
Tapi…. Teu bisa
Da rumasa ku kaayaan ….

Cintaraja, 030109










Sajak



HORENG…..
Ku: Pipin Dasripin



Hate teh asa sabil
Waktu diajak ka dayeuh
Duka ku naon, da teu merean
Horeng ……
Teu wasa nyebutkeunana

                                                                   Cintaraja, 030109



RUMASA
Ku: Pipin Dasripin



Reup panon poe surup muru paenggonan
Bareng jeung surupna hate kuring
Angin ngahiliwir nebak raga badag nu nguyung
Lungse lir kapas kaibunan



Sajak

LINI
Ku: Pipin Dasripin


Kabur pangacian, lumpat ka ditu ka dieu
Teu puguh nu dijugjug da hate ngaranjug
Galeong-galeong alam inggeung
Imah oyag lemah ampul-ampulan
Aya naon ieu the?
Kiamat kitu?
Lailaha illaloh … lailahaillaloh
Alohu Akbar …. Allohu Akbar ….

Hate mumuntang ka Nu Maha Suci
Sangkan tebih tina balai
Barudak ting koceak
Indungna rawah-riwih ceurik
Teu kuat nenjo imah tinggalebru

Borobot … kadenge kenteng ngaborobot
Bru nambru ka lemah
Mulek … pinuh kekebul
Bareng jeung mulekna hate
Kumaha pikahareupeun

Cintaraja, 5-9-2009



Sajak


PANGHAREPAN
Ku: Pipin Dasripin


Wening asih natrat na carita
Kedal ucap nande katresna
Langit bengras barangan bentang
Tingkaretip nyaangan manah
Lir nu disimbeuh
Galura rasa kaasih
Tingjelegur neumbrag dada
Lebah dinya
Kamelang ukur ngalangkang






KAHAYANG
Ku: Pipin Dasripin


Kahayang mah panonpoe teh bijil
Tapi mega ngahalangan
Kahayang mah diri teh ngapak
Tapi awak teu jangjangan