BAYANG WAKTU YANG HILANG
Karya: hpindas
Rafli melangkah keluar dari mobil dinasnya
dengan ransel di punggung dan tumpukan dokumen di tangan. Hari itu, ia dan
rekannya mendapat tugas dari Badan Akreditasi Nasional untuk memvisit salah
satu sekolah dasar yang berada di salah satu kabupaten yang tertera di surat
tugasnya. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahnya, namun pikirannya sedang sibuk
dengan jadwal yang padat. Meski rutinitas seperti ini sudah ia jalani
bertahun-tahun, ada perasaan aneh yang melintas dalam hati hari itu. Sesuatu
yang tak ia bisa definisikan.
Sekolah itu tampak ramai dengan anak-anak
berlarian di halaman, dan para guru yang sibuk mempersiapkan segala hal untuk
kedatangannya. Tetapi, tidak ada penyambutan khusus untuk asesor, karena untuk
saat ini hal yang seperti itu tidak diperbolehkan. Sesampainya di gerbang,
seorang perempuan muda menghampirinya.
"Selamat pagi, Pak. Saya Wina, guru
di sini. Bapak asesor dari BAN Propinsi, ya?" suaranya lembut, penuh
kehangatan.
Rafli berhenti sejenak. Matanya tertuju
pada wajah perempuan itu. Wina tersenyum ramah, namun bagi Rafli, senyum itu
memicu sebuah ingatan lama yang selama ini ia coba lupakan. Wajah Wina dengan
kerudung biru yang menutupi rambutnya dan senyum yang meneduhkan terlihat
begitu mirip dengan seseorang yang dulu sangat berarti baginya: Lila, kekasih
yang telah lama hilang dari kehidupannya.
Rafli tercekat. Ia berusaha menjaga sikap
profesionalnya sebagai asesor, namun pikirannya mendadak terlempar jauh ke masa
lalu. Sekilas, ia teringat saat-saat indah bersama Lila, saat mereka masih
saling berbagi mimpi di bawah langit sore yang berwarna oranye. Saat mereka
tertawa bersama di sudut kafe favorit, berbicara tentang rencana masa depan
yang kini tinggal bayangan.
"Pak?"
Suara Wina membuyarkan lamunannya.
"Oh,
maaf," jawab Rafli terbata-bata.
"Ya, saya berdua
dari BAN-PDM Provinsi. Terima kasih, Bu Wina."
Kemudian meraka berjalan menuju ke ruangan
temu awal yang sudah disediakan. Tampak Kepala Sekolah dan guru-guru yang lain
berdiri untuk menyambut mereka. Tidak lama kemudian acara temu awal dimulai. Setelah
selesai kegiatan visitasi dimulai dengan melakukan telaah dokumen dan
wawancara. Kebetulan Wina salah seorang guru yang tadi menyambut Rafli diwawancara
olehnya.
Sepanjang sesi visitasi, Rafli berusaha
keras memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Namun, setiap kali ia menatap
Wina, bayangan Lila kembali mengusik pikirannya. Ia melihat Lila dalam tatapan
mata Wina, dalam cara perempuan itu tersenyum, bahkan dalam suaranya yang
lembut. Hatinya terguncang, bukan karena Wina, tapi karena kenangan yang selama
ini ia kubur begitu dalam.
Hari pertama kegiatan visitasi sudah
selesai. Karena banyak bukti fisik yang harus dikumpulkan, kegiatan hari itu
sampai sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah sesi visitasi selesai dan
semua formalitas diakhiri, Rafli dan rekannya berpamitan. Ketika Rafli
melangkah ke luar ruangan, Wina mendekati Rafli dan berkata.
"Terima kasih untuk ilmunya pada hari
ini, Pak Rafli. Semoga besok kegiatan visitasinya berjalan lancer seperti hari
ini," ucapnya sambil tersenyum. Senyum yang sekali lagi mengingatkannya
pada cinta lama yang tak terselesaikan.
Ketika Rafli meninggalkan sekolah itu dari
kaca spion mobil masih terlihat wajah Wina yang masih berdiri memandangi mobilnya.
Terlihat perlahan wajah cantik itu menjauh. Perasaan yang ia coba lupakan
bertahun-tahun kembali menghantui. Di dalam hatinya, ia menyadari bahwa mungkin
pertemuannya dengan Wina bukan sekadar kebetulan. Mungkin ini adalah pengingat
bahwa ada hal-hal di masa lalu yang belum sepenuhnya ia lepaskan.
Ia tersenyum tipis, menyadari betapa
rapuhnya hati manusia. Cinta yang pernah ia pikir telah hilang kini hadir
kembali dalam bentuk kenangan yang samar, namun nyata. Di bawah langit senja
yang mulai merona, Rafli meninggalkan sekolah itu dengan pikiran yang lebih
tenang, membawa serta kenangan lama yang akan selalu menjadi bagian dari
dirinya, tanpa perlu diselesaikan.
Terkadang, cinta memang hanya meninggalkan
bayang-bayang di sudut hati. Dan itu cukup. Cag ah!***
Singaparna, 29 September 2024

