Subscribe:

Pages

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 September 2017

CERITA BERANTAI UNTUK MENULIS CERITA PENDEK
Oleh: Pipin Dasripin

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting untuk dikuasai. Untuk itu keterampilan menulis perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh sejak tingkat pendidikan dasar.
Keterampilan menulis sebagai salah satu aspek dari empat keterampilan berbahasa mempunyai peranan penting di dalam kehidupan manusia. Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang cukup kompleks karena pada saat menulis terlibat berbagai unsur yang harus diterapkan sekaligus. Dengan menulis kita dapat mengekspresikan pikiran atau perasaan kepada orang lain dengan menggunakan media tulis dengan harapan dapat dibaca oleh pembaca.
Akan tetapi kenyataannya dewasa ini masih banyak masyarakat yang kemampuan menulisnya masih rendah karena kurang didukung oleh minat yang kuat untuk menulis. Hal ini sejalan dengan pendapat  Alwasilah (2003) dari keempat aspek keterampilan berbahasa keterampilan menulislah yang sampai saat ini perkembangannya masih rendah. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia belum banyak berkarya tulis. Hal ini tentu saja disebabkan oleh masih rendahnya minat dan kemampuan menulis pada masyarakat kita.
Menulis bukan pekerjaan yang sekali jadi, tetapi memerlukan proses. Proses itu mulai dari menemukan topik, membatasi topik, memecahkan topik menjadi kerangka, dan mengembangkan kerangka menjadi sebuah karangan. Namun, menuangkan buah pikiran secara teratur dan terorganisasi ke dalam sebuah tulisan sehingga pembaca dapat memahami jalan pikiran seseorang, tidaklah mudah. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurgiyantoro (1995:270) yang menyatakan bahwa kemampuan menulis lebih sulit dikuasai dibandingkan dengan ketiga keterampilan berbahasa lain. Hal tersebut disebabkan oleh persyaratan penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa yang menjadi isi tulisan.
Banyak guru yang merasa kesulitan ketika mengajarkan menulis dalam hal ini mengarang sehingga mereka mengambil langkah yang gampang, yaitu menggunakan metode penugasan dan ceramah. Maksudnya adalah guru menjelaskan dan kemudian menugaskan mengarang bebas dengan memilih topik/tema sendiri. Dalam penjelasan, guru hanya menjelaskan sedikit teori tentang menulis, setelah itu guru memberi tugas kepada siswa untuk menulis.
Siswa tampak kurang antusias dalam menulis karena guru kurang memberikan rangsangan atau motivasi kepada anak, bahkan ada anak yang masih bingung ketika mau menulis, mungkin karena dia masih belum mengerti apa yang dijelaskan dan ditugaskan gurunya, mungkin juga karena kemampuan siswa berfikir secara verbal masih kurang. Selain itu juga siswa merasa jemu ketika guru memberikan tugas menulis karena cara yang diberikan guru dalam mengajarkan menulis masih menggunakan model tradisional seperti yang telah dikemukakan di atas.
Padahal banyak cara untuk mengajarkan menulis, di antaranya dengan cerita berantai. Yaitu guru memulai cerita secara lisan, kemudian diteruskan oleh seluruh siswa secara bergiliran sehingga menjadikan sebuah cerita pendek. Setelah itu baru siswa menuliskan kembali cerita pendek hasil karangan bersama itu dalam bukunya masing-masing.  Model cerita berantai dapat mengaktifkan siswa dalam bercerita dengan difasilitasi oleh guru.
            Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di SMP mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IX terdapat kompetensi dasar menulis cerita pendek. Pengalaman siswa bisa dijadikan sebuah cerita pendek. Dalam mengajarkan menulis pengalaman bisa dengan menggunakan model cerita berantai. Walaupun pengalaman siswa berbeda-beda tetapi pasti ada kemiripan dengan pengalaman siswa yang lain. Dan itu bisa dijadikan bahan untuk memulai menulis cerita pendek.
            Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran dengan model ini adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan awal. Pada kegiatan ini guru harus melakukan hal-hal seperti:
  • Terlebih dahulu guru mempersiapkan tema cerita pendek
  • Guru mempersiapkan format penilaian
  • Guru memotivasi siswa dengan mengkondisikan siswa
b. Kegiatan Inti. Pada kegiatan inti guru dan siswa melakukan kegiatan:
  • Guru memberikan informasi singkat tentang karakteristik cerita pendek dan tema cerita pendek yang akan dibuat.
  • Guru memulai cerita secara lisan dan menunjuk siswa untuk meneruskan cerita guru.
  • Siswa menyambung cerita terus bergiliran sampai satu kelas kebagian.
  • Guru menyela cerita anak jika ada cerita yang keluar dari tema
  • Siswa menyambung kembali isi cerita sampai selesai.
c. Kegiatan akhir. Pada kegiatan akhir kegiatan yang dilakukan siswa dan guru adalah:
  • Siswa menulis kembali cerita pendek hasil karangan bersama  itu dalam bukunya masing-masing.
  • Siswa bertanya jawab dengan guru tentang cara menulis cerita pendek
  • Setelah selesai siwa membacakan hasil karangannya di depan teman-temannya dan siswa yang lain menyimak serta mengomentarinya untuk kesempurnaan karangan tersebut.
  • Siswa menyimpulkan tentang materi cerita pendek
  • Bila karangan siswa ada yang belum sempurna, guru memberikan tugas untuk meyempurnakan karangan cerita pendek di rumah. 
Itulah salah satu model pembelajaran menulis dengan cerita berantai, semoga saja model ini dapat menjadikan solusi dalam mengajarkan menulis kepada anak didik kita dan mejadikan siswa bergairah dalam menulis.***

Rabu, 09 November 2011

GURU HARUS BISA MENULIS


Oleh: Pipin Dasripin

Keterampilan menulis sebagai salah satu aspek dari empat keterampilan berbahasa mempunyai peranan penting di dalam kehidupan manusia. Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang cukup kompleks karena pada saat menulis terlibat berbagai unsur yang harus diterapkan sekaligus. Dengan menulis kita dapat mengekspresikan pikiran atau perasaan kepada orang lain dengan menggunakan media tulis dengan harapan dapat dibaca oleh pembaca.
Menulis diperlukan adanya suatu bentuk ekspresi gagasan yang berkesinambungan dan mempunyai urutan logis dengan menggunakan kosa kata dan tatabahasa tertentu atau kaidah bahasa yang digunakan sehingga menggambarkan atau dapat menyajikan informasi yang diekspresikan secara jelas. Itulah sebabnya untuk terampil menulis diperlukan latihan dan praktek yang terus menerus dan teratur.
Sekurang-kurangnya ada tiga proses menulis yang ditawarkan oleh David Nunan, yakni: (1) tahap prapenulisan, (2) tahap penulisan, dan (3) tahap perbaikan. Untuk menerapkan ketiga tahap menulis tersebut diperlukan keterampilan memadukan antara proses dan produk menulis.
Guru, harus pandai berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Dalam pembelajaran menulis diharapkan guru dapat membuktikan bahwa dia bisa menulis. Untuk keberhasilan pembelajaran menulis guru dituntut untuk dapat menulis. Guru harus dapat meyakinkan bahwa siswa dapat menulis. Untuk itu guru dituntut untuk bisa menulis dan dapat memperlihatkan berbagai karya guru dalam menulis. Hal tersebut dapat menambah kepercayaan siswa terhadap guru dalam menulis. Kalau gurunya tidak dapat menulis, siswanya juga tidak akan terdorong untuk melakukan menulis.
Selain menambah kepercayaan siswa terhadap guru dalam hal menulis, karyatulis yang dihasilkan guru bisa dijadikan bukti fisik untuk kenaikan pangkat atau golongan sebagai pegawai negeri sipil. Karya tulis tersebut termasuk dalam pengembangan profesi dan wajib dilakukan oleh guru yang sudah golongan IV. Bagi guru  kenaikan pangkat adalah hal yang dinanti-natikan. Karena berkaitan dengan tambahan penghasilan. Bagi guru yang akan naik pangkat dari golongan IV/a ke golongan IV/b dan seterusnya, guru wajib membuat karya tulis. Kalau tidak, dijamin tidak akan naik pangkat selamanya. Jika dikaji, penulisan karya tulis ini haruslah berpedoman pada metode dan sistematika penulisan ilmiah, karena itu pola fikir dan tulisan pun harus diarahkan ke arah ilmiah dalam lingkup kependidikan khususnya sekolah.
Karya tulis yang dibuat guru dalam rangka kenaikan pangkat/golongan merupakan pengembangan profesi yang wajib dijalankan oleh guru. Jumlah angkan kridit yang harus dimiliki guru dalam pengembangan profesi ini adalah 12. Jadi jika karya tulis yang berbentuk laporan penelitian tindakan kelas (PTK) memiliki nilai 4 setiap karya tulis, maka laporan PTK yang harus dibuat oleh guru minimal 3 buah laporan PTK. Kalau tidak memenuhi poin 12 dalam pengembangan profesi guru, maka guru tersebut tidak bisa naik pangkat atau golongan.

Menulis Bagi Guru
Seorang guru bisa dikatakan berprestasi bila guru tersebut sudah mampu menghasilkan tulisan yang dipublikasikan di media masa, artinya tulisannya dipublikasikan untuk masyarakat umum. Selain itu seorang guru yang mampu menulis berarti memiliki kemampuan membaca yang tinggi. Seorang penulis tidak bisa menghasilkan tulisan yang baik kalau tidak membaca. Jadi guru penulis adalah orang yang mempunyai kemampuan membaca. Dengan membaca kita akan memperoleh pengetahuan yang baru. Guru yang sudah terbiasa memperoleh ilmu pengetahuan yang baru akan pula menghasilkan ilmu yang baru untuk disampaikan pada yang lain.
Semakin banyak membaca, semakin banyak pula ide-ide tulisan yang akan disampaikan dalam bentuk tulisan. Banyak keuntungan bagi guru yang suka menulis. Diantaranya yaitu menambah ilmu pengetahuan. Karena guru sebelum menulis mencari bahan tulisan dengan membaca berbagai buku yang sesuai dengan tema tulisan yang akan dijadikan sebuah karya tulis. Jika tulisan tersebut dimuat di media masa, tentunya uang lelah telah menanti.
Keuntungan lain bagi guru yang suka menulis adalah dikenal orang. Tulisan yang dimuat di media masa tentunya dibaca banyak orang. Tak ketinggalan penulis tulisan tersebut pasti dibaca. Karena itu setidaknya nama penulis telah dikenal oleh pembaca yang membaca tulisannya. Semakin banyak tulisan kita dimuat di media masa semakin akrab nama kita dikenal orang. Keinginan guru untuk menambah wawasan sebagai bahan tulisannya terus bertambah, karena setiap penulis tentunya ingin meningkatkan kualitas tulisanna. Selain berlatih tentunya menambah wawasan tentang bahan tulisan yang akan ditulisnya. Jadi, seorang guru yang suka menulis tentunya wawasannya luas. Dia akan mengamalkan ilmunya selain kepada muridnya, juga akan mengamalkan ilmunya pada masyarakat umum melalui tulisannya.

Media untuk Menulis
Banyak media yang bisa dijadikan wahana bagi guru menulis dalam mempublikasikan tulisannya dan meraih prestasi kerja guru. Di antaranya  media cetak. Surat kabar, tabloid, majalah merupakan media cetak yang banyak memberikan peluang bagi guru untuk menulis. Mereka menyediakan kolom khusus bagi guru untuk menyumbangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Itu merupakan upaya agar guru suka menulis. Bagi guru, merupakan kesempatan untuk dapat membuat tulisan yang baik dan bisa dipubikasikan dalam kolom tersebut.
Selain di malajah atau surat kabar, guru dapat menulis di jurnal pendidikan. Guru dapat menyumbangkan buah bikirannya dalam jurnal tersebut. Tulisan dalam jurnal biasanya berupa tulisan ilmiah hasil penelitian. Guru dituntut untuk bisa melakukan penelitian tindakan kelas. Laporan hasil penelitian tindakan kelas bisa dipublikasikan di dalam jurnal. Ini bisa menambah point akademik bagi guru untuk menaikan pangkat atau golongannya. Karena bagi guru yang akan naik pangkat atau golongan dari golongan IV.A ke IV.b dan seterusnya harus mempunyai nilai pengembangan profesi yang berupa karya tulis.
Selain itu, pusat perbukuan (Pusbuk) setiap tahunnya menyelenggarakan sayembara menulis buku pengayaan dan buku teks pengajaran bagi guru dan tenaga kependidikan, baik itu yang sudah PNS, non PNS maupun yang sudah pensiun.
Wahana ini merupakan kesempatan bagi guru yang suka menulis. Guru bisa menyumbangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Selain menambah ilmu pengetahuan, guru juga mendapat hadiah jika tulisan mereka mendapat penilaian yang baik.
Bagi guru yang suka menulis buku baik itu buku teks pengajaran atau buku pengayaan dan diterbitkan tentunya merupakan sebuah penghasilan yang cukup lumayan. Selain menyumbangkan ilmu pengetahuannya, dia juga mendapatkan royalti yang cukup lumayan. Hasil jerih payah menulis mendapat imbalan sesuai dengan hasil tulisannya.
Selain media cetak, wahana yang dapat dijadikan tempat tulisan guru adalah media elektronik. Mereka dapat menulis di blog-blog non komersil. Guru dapat membuat blog sendiri dan diisi oleh tulisannya sendiri. Guru dapat menyumbangkan pikirannya di media tersebut. Dengan demikian karya tulis guru dapat dilihat dan dibaca oleh banyak orang.***

Kamis, 03 Februari 2011

Artikel

BAHASA SUNDA SEBAGAI BAHASA IBU WAJIB DILESTARIKAN
Oleh : Drs. Pipin Dasripin, M.Pd.

Bulan Februari mengingatkan kita akan hari yang sangat bersejarah bagi perkembangan bahasa ibu (basa indung). Karena pada bulan Pebruari ini tepatnya pada tanggal 21 Pebruari, UNESCO (United National Education, social, and Culture Organitation) menetapkan sebagai hari bahasa ibu internasional. UNESCO menetapkan hari bahasa ibu internasional, karena melihat betapa pentingnya bahasa ibu yang bukan hanya sebagai bagian dari kebudayaan yang harus dipelihara, tetapi merupakan alat berekspresi manusia dalam keberagaman. Selanjutnya, disadari pula bahwa keberadaan bahasa ibu saat ini berada pada suasana multibahasa, sehingga ada kemungkinan bahasa itu akan lenyap begitu saja. Itulah sebabnya warga dunia dianjurkan agar ikut memperhatikan bahasa ibu yang sekarang berada dalam suasana masyarakat multibahasa itu.
            Dengan ditetapkannya bahasa ibu internasional diharapkan suku bangsa yang berada di seluruh dunia menyadari adanya bahasa sendiri. Selain itu mengupayakan agar bahasa ibu yang berkembang di berbagai suku bangsa yang ada di dunia ini tidak terdesak oleh bahasa asing dan terus tumbuh serta dipakai oleh masyarakat yang menggunakannya. Karena bahasa ibu merupakan bagian dari budaya dunia yang tidak boleh punah. Demikian juga dengan bahasa Sunda yang merupakan bagian dari budaya Sunda harus tetap hidup dan terus berkembang sebagai harta dari budaya dunia.
            Bahasa Sunda yang berkembang di daerah provinsi Jawa Barat, provinsi Banten dan daerah provinsi Jawa tengah bagian barat merupakan bahasa ibu yang patut kita lestarikan. Karena bahasa Sunda merupakan bahasa yang menjadi lambang identitas atau jati diri orang Sunda. Bahasa Sunda adalah bahasa ibu (basa indung) artinya bahasa pertama yang diperoleh anak dari ibunya atau keluarganya melalui pembelajaran informal sejak anak itu mulai belajar berbicara (Prawirasumantri, dkk, 2003:17).
            Bahasa Sunda termasuk bahasa daerah yang masih dipelihara dan digunakan oleh masyarakatnya. Oleh sebab itu bahasa Sunda dilindungi oleh Negara sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD 1945 bab XV dalam penjelasannya berbunyi “Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya) bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh Negara. Bahasa-bahasa itu merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup.
            Bukti bahwa bahasa Sunda dipelihara adalah dengan adanya upaya dari pemerintah memasukan bahasa Sunda sebagai mata pelajaran muatan lokal bahasa Sunda yang diajarkan di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA, bahkan di perguruan tinggi seperti UNPAD,UPI dan UNPAS juga ada program studi bahasa Sunda. Selain itu juga upaya pemeliharaan bahasa Sunda terlihat di lembaga swadaya masyarakat, LBSS, Balai Pengembangan Bahasa Daerah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dan Balai Bahasa Bandung serta dari penerbit yang menerbitkan buku-buku bahasa Sunda. Dengan keluarnya Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemerliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah serta Petunjuk Pelaksanaanya, merupakan bukti bahwa pemerintah Provinsi Jawa Barat memelihara bahasa-bahasa daerah yang berada di provinsi Jawa Barat termasuk bahasa Sunda.
            Namun kenyataannya sekarang ini banyak masyarakat Sunda yang sudah tidak menggunakan atau enggan menggunakan bahasa Sunda terutama di perkotaan. Ada keluarga orang Sunda di keluarganya tidak memakai bahasa Sunda, walau mereka berada di lingkungan orang Sunda. Pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan seorang tokoh Sunda H. Elin Syamsuri ketika diwawancarai oleh majalah “Cupu Manik”, yang menyatakan bahwa “Ayeuna mah indung bapa sanajan ti Sunda, geus teu ngaromong basa Sunda di imahna.” ( sekarang walaupun ayah dan ibunya orang Sunda, sudah tidak berbicara lagi bahasa Sunda di rumahnya) (Cupu Manik, edisi Januari 2008, hal. 56).
            Hasil penelitian Balai Bahasa Bandung diperoleh bahwa di kota Bandung yang menggunakan bahasa Sunda di lingkungan keluarganya hanya 40% (Galura edisi minggu II Pebruari 2009, hal.3). Ini menunjukkan bahwa di kota besar seperti kota Bandung yang merupakan pusat kebudayaan Sunda dan merupakan lahirnya Bahasa Sunda lulugu (bahasa standar), sudah banyak di lingkungan keluarganya tidak menggunakan bahasa Sunda. Padahal kota Bandung seperti yang telah dijelaskan di atas adalah kota yang semula bahasanya dijadikan bahasa lulugu, seperti yang jelaskan pada Staatsblad (Lembaran Negara) No. 125 Tahun 1893, ayat 6, ditetapkan bahwa “bahasa pribumi yang harus diajarkan di sekolah ialah bahasa Sunda Bandung” Dengan peraturan itu timbulah sebutan basa sakola, artinya bahasa yang diajarkan di sekolah untuk bahasa Sunda dialek Bandung. Kemudian, sebutan basa sakola berubah menjadi bahasa lulugu “bahasa standar” atau basa Sunda lulugu (Prawirasumantri, dkk. 2003:16).
Suasana seperti itu juga dialami oleh penulis ketika penulis mau ke kampus Universitas Pendidikan Indonesia taun 2006 lalu, naik angkot jurusan Cicaheum-Ledeng. Di dalam angkot tidak ada seorang pun yang menggunakan bahasa Sunda, padahal penulis yakin di dalam angkot itu banyak orang Sunda. Itu terlihat ketika mereka berbicara. Waktu itu yang berbicara para gadis kuliahan atau mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi di Bandung. Karena menyimak dari pembicaraannya mereka membicarakan tentang perkuliahan, kampus dan tugas kuliah serta dosen pengajarnya. Dalam pembicaraannya mereka sering menyebut kecap panganteb seperti kata mah, atuh dan teh. Dalam bahasa lain tidak ada kecap panganteb, yang ada hanya dalam basa Sunda. Kelihatannaya mereka sudah enjoy dengan bahasa yang mereka pakai. Jauh berbeda ketika penulis naik angkot  pada tahun 1985 dengan tujuan yang sama yaitu ke kampus UPI yang pada waktu itu masih IKIP Bandung, penumpang dan supir masih menggunakan bahasa Sunda. jadi, suasana kota priangan masih terlihat jelas, jati diri urang Sunda masih terlihat.
            Banyak para inohong Sunda mengkhawatirkan keberadaan bahasa Sunda yang sebagian orang Sunda di perkotaan tidak menggunakannya. Tetapi, sebenarnya tidak usah terlalu dikhawatirkan, karena di pilemburan masyarakatnya 100% masih menggunakan bahasa Sunda.
            Walaupun di pilemburan masyarakatnya 100% masih menggunakan bahasa Sunda, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat Sunda pun pada saat ini berada dalam suasana multibahasa, paling tidak dwibahasa yakni berdampingan dengan bahasa Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional. Suasana inilah yang harus dicermati oleh pihak yang ingin melestarikan bahasa Sunda, termasuk para guru yang diberi tugas mengajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda.
            Guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam melestarikan budaya Sunda. Untuk itu para guru diharapkan dapat menjembatani dalam menyampaikan pesan terhadap generasi muda untuk melestarikan budaya Sunda khususnya bahasa Sunda.
Guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda menyadari benar bahwa peranan bahasa daerah sekarang jauh amat kurang bila dibandingkan dengan bahasa Indonesia, karena kedudukan dan fungsinya yang berbeda. Untuk itulah maka guru Bahasa dan Sastra Sunda harus mempunyai keterampilan dan langkah strategi yang dapat membangkitkan minat siswa dalam belajar Bahasa dan Sastra Sunda. Langkah Strategis dalam pembelajaran bahasa Sunda adalah dengan cara lebih mengutamakan keterampilan membaca pada siswanya. Dengan membaca bacaan bahasa Sunda nantinya siswa akan banyak mengenal bahasa Sunda sehingga menimbulkan minat dalam diri siswa terhadap bahasa dan sastra Sunda. Konsekwensinya dari penjelasan di atas adalah di sekolah harus tersedia buku-buku bacaan yang berbahasa Sunda. Karena kalau tidak ada buku bacaan dalam bahasa Sunda, siswa tidak akan memulai membaca buku bahasa Sunda dan minat siswa terhadap bahasa dan sastra Sunda tidak akan ada. Di sinilah peranan sekolah melalui perpustakaan sekolah mencari atau mengadakan bagaimana caranya supaya di sekolah diadakan buku-buku bacaan berbahasa Sunda.
Dengan tumbuhnya minat baca siswa terhadap bacaan berbahasa Sunda, nantinya timbul dalam diri siswa untuk mencoba menulis dan berbicara dalam bahasa Sunda yang baik serta menyimak hal-hal yang disampaikan dengan media bahasa Sunda.
Guru bahasa dan Sastra Sunda yang mengajar di sekolah-sekolah kebanyakan bukan jebolan dari jurusan Sunda. Ini terbukti di kabupaten penulis mengajar saja yaitu di Kabupaten Tasikmalaya, kurang dari 50% guru bahasa Sunda bukan lulusan dari jurusan Bahasa Sunda. Tetapi, dengan keinginan yang tulus untuk mengajarkan bahasa dan sastra Sunda para guru tersebut patut dihargai, karena mereka sudah ikut dalam melestarikan budaya Sunda khususnya bahasa Sunda.***

 Dimuat dina Koran "Tribuana" Koran Tasik 2010

Selasa, 21 Desember 2010

IBU, TOKOH YANG SERBA PANDAI DALAM LINGKUNGAN KELUARGA

Oleh: Pipin Dasripin

Ibu merupakan tokoh yang selalu ada, dekat, dan selalu hadir dalam lingkungan keluarganya. Dia tidak gampang menyerah dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang berada dalam lingkungan keluarganya. Di sebut ibu, seorang perempuan bukan sekedar karena telah melahirkan anak. Tetapi seorang ibu harus benar-benar memiliki sifat dan sikap keibuan, yang rela mengorbankan dirinya demi cinta dan sayangnya kepada anak dan keluarga.
Seorang ibu akan senantiasa berada dan dekat serta bergaul dengan anaknya. Sehingga sering sekali seorang ibu ikut terlibat dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi putra-putrinya, dari persoalan yang sederhana sampai kepada persoalan yang rumit.
Memang kalau kita lihat, ibu merupakan tokoh yang serba pandai dalam keluarganya. Dikatakan serba pandai karena ibu banyak berperan dan mempunyai banyak fungsi dalam membina keluarganya.
Banyak peran yang ditampilkan oleh sang ibu, misalnya sebagai pendamping suami. Sesungguhnyalah seorang suami akan merasa dan bahagia manakala ia beristrikan atau mempunyai teman hidup seorang wanita yang benar-benar dikala suka dan duka selalu mendampingi sang suami. Sehingga mampu menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis. Ibu sebagai pendamping suami tentunya mampu memberi spirit kepada sang suami sebagai pasangan hidupnya yang selalu berkonsultasi di dalam menggalang dan menciptakan serta membentuk keluarga bahagia, yang dilandasi perdamaian, ketertiban dan ketentraman lahir batin.
Juga ibu sebagai istri, pendamping suami mampu berusaha secara continue untuk membuat betah di rumah bagi suaminya dalam keadaan apapun dan bagaimanapun, sehingga, akan terasa bahwa di rumah itu seakan-akan  “sorga” bagi semua anggota keluarga.
Selain itu jika ada anggota keluarga yang sakit, ibu yang mula-mula merawat orang yang sakit itu. Ibu dengan tekun merawat anak atau suami yang sakit, sehingga anggota keluarga yang sakit itu terasa terhibur dan sehat. Jadi dalam keluarga ibu baginya adalah perawat yang paling tekun. Ibu sering memberi hiburan diwaktu senggang untuk putra-putrinya. Melucu untuk menghibur anak-anaknya terutama yang masih kecil dikala bersusah hati. Ia senang menghidangkan cerita-cerita jenaka, kejadian-kejadian yang cepat menembus perasaan sang anak demi pembentukan jiwanya.
Sedangkan peranan ibu sebagai pendidik dalam keluarga tidak diragukan lagi. Karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama-tama bagi anak-anak. Dalam hal ini sikap ibu semua terekam, terserap mendarah daging pada pribadi dan sikap anak-anak. Maksudnya pengaruh sang ibulah yang paling kuat terhadap perkembangan anak dari pada ayahnya. Karena itulah sang pendidik dalam keluarga harus memberi tauladan yang baik kepada anaknya agar anak-anak menjadi generasi penerus yang baik.
Pendidikan yang diserapkan sang ibu pada anak berjalan sejak prenatal. Sang ibu sudah menanggung resiko perjuangan hidup dalam membina si janin yang sedang berkembang dalam rahimnya.dan sejak janin di dalam kandungannya itu, ibu sudah mulai mengadakan kontak batiniah. Dilanjutkan dengan proses perkembangan dan pertumbuhan si bayi, menjadi anak dan nantinya menjadi suatu anggota masyarakat yang benar-benar dewasa.
Walaupun ibu disibukkan dengan tugas routin, mengatur rumah tangga, tapi hubungan dengan anak selalu paling dekat, sejak ibu memberikan makanan pertama kepada anaknya yang berupa ASI. Pada saat itulah anak menetek pertama, denyut jantung ibu dalam kasih sayangnya di atas buaian terekam dan mengalirlah getaran kasih sayang pada aliran darahnya.
Kemudian dalam mengikuti pertumbuhan dan perkembangan si anak, proses pendidikan selalu dilakukan oleh seorang ibu. Mengajarkan bagaimana berkata-kata, berjalan, berdiri, dan kegiatan-kegiatan lainnya selalu dituntut suatu kesabaran dari seorang ibu sebagai pendidik. Pendekatan-pendekatan secara psikologis selalu menjadi landasan ibu dalam menjalankan pendidikan kepada anak-anak dan anggota keluarganya tentang hal-hal yang berhubungan dengan norma-norma keagamaan.
Sebagi seorang ibu dalam mengelola rumah tangganya sehari-hari dituntut keterampilannya dalam mengatur anggaran belanjanya. Di sini ibu memeperlihatkan kebijasanaanya, kepintarannya, serta kecermatannya sebagai bendahara keluarga  dalam menggunakan uang untuk keselamatan keluarganya. Ibu adalah seorang insane yang snggup menahan napas, lebih-lebih jika bulan menjelang tua dan penyakit kantong kemps mulai melanda. Pendapatan yang diperoleh atas hasil kerja suami, atau anggota-anggota rumah tangga lainnya, bahkan bila ibu sendiri mendapatkan penghasilan pula dikelolanya dengan baik dan rapih. Pengeluaran untuk keperluan rumah tangga disesuaikan dengan keadaan ekonomi keluarga atau rumah tangga secara keseluruhan. Bila anak-anak memerlukan uang untuk keperluan sekolahnya, ibulah yang memberinya dan mengaturnya supaya uang tersebut jangan dipergunakan untuk hal-hal yang tak bermanfaat.
Bila ada anggota keluarga yang tertimpa duka atau mempunyai permasalahan yang sulit diatasi, mereka akan lari mengadu kepada ibunya. Memang ibu adalah tempat anggota keluarga mengadu, apakah ia seorang ayah yang sudah beranak pinak ataukah seorang kakek yang sudah berbuyut, maling kelas kakap, koruptor, bahkan seorang dictator sekalipun takkan lupa kepada ibunya. Lebih-lebih saat tertimpa kedukaan.
Itu menandakan bahwa ibu adalah tempat berlindung anak-anaknya dari tindakan-tindakan yang negative dan hidup sesat. Si anak akan merasa terlindungi bila si ibu memberikan perasaan aman sebagai kebutuhan azasi manusia.
Kebanyakan si anak bila mendapat kesulitan yang besar, atau tertimpa musibah, datang atau teringat pada ibunya. Tetapi sayang masih banyak orang yang melupakannya, dikala mereka mendapat kebahagiaan yang melimpah ruah.
Itulah sekelumit uraian mengenai peran ibu dalam membina rumah tangganya. Semoga kita sebagai anak tidak melupakan ibu walau bagaimanapun dan selalu berbakti kepadanya.***

Ket. Pernah dimuat pada Majalah Suara Guru

Jumat, 26 November 2010

PAMAREKAN PANGAJARAN KONTEKSTUAL

PAMAREKAN PANGAJARAN KONTEKSTUAL
Ku: Pipin Dasripin

Loba pamarekan anu bisa dipake guru pikeun dilarapkeun dina lumangsungna kagiatan diajar ngajar. Pamarekan anu keur hangkeut dicobakeun kiwari dina rupa-rupa pangajaran nya eta Pamarekan Pangajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)), nya eta konsep diajar nu ngabantu guru ngaitkeun bahan anu diajarkeun jeung dunya nyata siswa, bari ngadorong siswa matalikeun kaweruh nu dicangkingna kana larapna dina kahirupan sapopoe. Pangaweruh jeung kaparigelan siswa dicangking tina usaha siswa ngawangun sorangan pangaweruh jeung kaparigelan anyar nalika diajar.
Pamarekan Pangajaran Kontekstual ngalibetkeun tujuh komponen utama pamarekan produktif, nya eta (1) Constructivism (konstruktivisme), (2) inquiry (manggihan), (3) questioning (tumanya), (4) learning community (masarakat diajar), (5) modeling (picontoeun), (6) reflection (refleksi), jeung (7) authentic assessment (meunteun saenyana). Sangkan leuwih jentre tujuh komponen pamarekan kontekstual di luhur teh urang pedar hiji-hiji.

1)      Constructivism ( Konstruktivisme)
Contructivism (Konstruktivisme) mangrupa dadasar mikir atawa folosofis yen kaweruh teh diwangun saeutik-saeutik, tur hasilna dijembaran ku konteks. Anu penting lain lobana bahan nu katampa ku siswa, tapi kumaha cara siswa nampa kaweruh. Ku kituna, pancen guru nya eta mere fasilitas proses diajar siswa ku cara-cara:
1)      ngajadikeun pangaweruh mangpaat tur luyu jeung siswa,
2)      nyadiakeun waktu pikeun manggihan jeung ngalarapkeun ideuna, jeung
3)      nyadarkeun diri siswa pikeun ngalarapkeun strategi sorangan dina diajar.

2)      Inquiry (Manggihan)
Ku pamarekan kontekstual mah siswa teh sina manggihan sorangan. Kaweruh jeung kaparigelan nu katampa ku siswa dipiharep lain tina nginget-nginget fakta, tapi tina hasil manggihan sorangan. Ari metode manggihan teh sifatna tepung geulang (siklus), nya eta observasi, tumanya, ngajukeun dugaan (hipotesis), ngumpulkeun data, jeung nyindekkeun. Lengkah-lengkahna kieu :
1)      ngarumuskeun masalah dina ngulik naon bae;
2)      nitenan atawa ngayakeun observasi;
3)      nganalisis jeung ngadadarkeun hasil dina tulisan; jeung
4)      midangkeun atawa ngawawarkeun hasil tulisan ka balarea (guru, siswa)


3)            Questioning  (Tumanya)
Pikeun nambahan kaweruh diantarana ngaliwatan tumanya. Kaweruh hiji jalma kapanggih tina hasil tumanya. Tumanya bisa jadi kagiatan guru pikeun ngadorong, ngaping, jeung meunteun kamampuh mikir siswa. Siswa anu loba tumanya dina waktu diajar, bakal nambahan kaweruh anu loba sarta bisa dibedakeun kabisana jeung baturna nu lian nu tara loba tatanya.
4)      Learning community (Masarakat Diajar)
Hasil diajar kapanggih ku cara gawe bareng atawa diajar ngelompok (kolaborasi). Di antara siswa diajar silihasih ku pangarti, silihasuh ku pangaweruh, silihasah ku pangabisa, silihdeudeul, siliheledan dina rupaning wawaran (sharing).
5)      Modeling (Picontoeun)
Dina pangajaran kudu aya kagiatan midangkeun conto atawa model keur tirueun. Guru kudu mere model, kumaha carana diajar. Najan kitu, guru lain hiji-hijina model. Anu bisa dijadikeun model teh bisa siswa, sastrawan, ahli basa, gambar, atawa barang-barang langsung gumantung kana kabutuhan dina proses kagiatan diajar ngajar.
6)      Reflection (Refleksi)
Refleksi mangrupa cara mikir ka tukang ngeunaan naon-naon nu geus dipilampah. Wujudiahna refleksi di tungtung pangajaran ku cara-cara:
1)      dadaran langsung ngeunaan naon-naon nu katampa harita;
2)      catetan dina buku siswa;
3)      kesan atawa saran siswa ngeunaan proses lumangsungna pangajaran;
4)      diskusi; jeung
5)      pidangan hasil karya siswa.

7)      Authentic assessment  (Meunteun anu sabenerna)
Dina hakekatna nu disebut meunteun atawa ngajen sabenerna teh nya eta kamajuan diajar dipeunteun atawa diajen tina proses, lain ngan ukur tina hasilna wungkul, tur dipilampah ku rupa-rupa cara. Jadi tes mah ngan ukur salahsahiji cara dina meunteun.
Meunteun sabenerna mangrupa cara pikeun mikanyaho bener henteuna proses diajar siswa tur kumaha kamekaranana. Ari pangajaran nu bener teh nya eta mantuan siswa sangkan mampuh diajar (learning how to learn) hiji hal, lain lobana wawaran nu katampa dina ahir pangajaran.
Ciri-ciri atawa karakteristik meunteun sabenerna, di antarana :
1)      dipilampah salila jeung sabada lumangsungna proses diajar ngajar;
2)      bisa dilarapkeun dina evaluasi formatif atawa sumatif;
3)      nu diukurna kaparigelan jeung paripolah, lain pangaweruh;
4)      sambung-sinambung;
5)      ngabaur atawa ngadumaniskeun (integrated); jeung
6)      bisa dipake salaku unduring laku (feed back).
Pamarekan pangajaran kontekstual teh miboga motto kieu: “Cara diajar anu pangalusna nya eta siswa ngawangun sorangan kalawan aktif nu dipahamna” (Student learn best by actively constructing their own understanding).
Pamarekan Pangajaran Kontekstual miboga sawatara ciri, di antarana, nya eta gawe bareng jeung silihdeudeul, pikaresepeun, diajar kalawan sumanget, pangajaran awor atawa ngadu manis (terintegrasi), ngagunakeun rupa-rupa sumber, siswa aktif, kritis, jeung kreatif, siliheledan (sharing) jeung babaturan, siswa ngaragakeun, guru ngalelempeng, pidangan karya siswa, jeung laporan (raport jeung karya siswa)
Strategi pangajaran make Pamarekan Kontekstual nyoko kana rupaning kagiatan saperti :
1)      Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA);
2)      Pendekatan Proses, nya eta diajar bari milampah atawa praktek;
3)      Life skill education, nya eta atikan atawa diajar anu luyu jeung kaayaan lingkungan hirupna;
4)      Authentic instruction, nya eta pituduh atawa padoman diajar nu nyata;
5)      Inquiry-based learning, nya eta diajar manggihan hiji hal;
6)      Problem-based learning, nya eta diajar ngungkulan sorangan masalah nu kapanggih;
7)      Cooperative-learning, nya eta diajar ngelompok atawa gawe bareng;
8)      Service learning, nya eta diajar siswa ku cara diaping, dijaring, jeung digeroh kalawan enya-enya;
Runtuyan kagiatan pangajaran kontekstual, ceuk Zahorik (1995: 14:22) nyoko kana rupa-rupa kaweruh, nya eta :
  1. activating knowledge, anu ngaaktifkeun kaweruh nu geus nyampak dina diri siswa;
  2. acquiring knowledge, nu narima kaweruh anyar ku cara ngulik bahan sagemblengna, tuluy nitenan wincikanana;
  3. understanding knowledge, anu maham atawa nyangkem pangaweruh ku cara nyusun :
1)      konsep saheulaanan
2)      padungdengan bari siliheledan jeung babaturan (sharing),
3)      nyarungsum jeung mekarkeun hasil padungdengan;
  1. applying knowledge, nu mraktekeun pangaweruh jeung pangalaman; jeung
  2. reflecting knowledge, anu ngayakeun refleksi kana strategi pamarekan kaweruh nu katarima ku dirina



Dimuat dina Galura edisi V Mei 2009